Biar langitku gelap – ku tak kan hilang.
Perjalanan ini meski sunyi, tapi biarlah aku tetap berjalan.
Diatas bumi mimpi yang hilang, ku tetap berjalan

Jatuh sudah aku terlalu dalam.
Mengingat disana – kau yang ku cinta
Takkan pernah terlupakan, meski engkau takkan kembali.
Kan ku cintai engkau selamanya
sandingkan dua hati di lubuk yang paling dalam

Meski sudah lagi – terlahir bunga dari segenggam warna di musim semi.
Selalu akan luka ini membekas
takkan pernah hilang bahkan andaikata kau kembali
“Takkan pernah! Takkan pernah!”

Ku lepas burung dara – terbang tinggi
menggapai masa depan yang ingin di cari.
Lepas sudah harapan itu,
dara pergi dan tak kembali ke tuannya lagi

Hujan telah turun membasahi bumi pertiwi
melihat dara gembira – bersama hidup barunya.
Serasa kering tanahku meski hujan tak berhenti.
Pupus – mengharap embun pagi

Canda tawa dalam kenangan lama hangatkan hidupnya disana.
Laksana mentari dengan sinar emasnya
tanpa cacat tanpa pula noda

Berdirilah aku – di sudut sunyi – – di atas malam gelap nan dingin
Gila..! Gila..! Serasa – aku di atas cahaya
tuk mengharap dara kembali atas cinta

Suara halus hangat dan merdu. Kini tak pernah lagi ku dengar
dari bibir dara bidadari surga, seperti yang lalu
dikala aku masih tertawa.

Di balik tirai penjara hati tanpa sinar hangat menyinari,
aku tumbuh dalam benci dan rindu mentari pagi

Dimana dara baru – bidadari surga
dimana ia kini berada, aku rindu kisah lainnya
Ku harap lahir seperti dia

Bukit Mimpi – February 10th 2011 | © Andyriyan

*2011 ya? Udah berapa tahun tuh? 4 tahun yang lalu hah?
Ngoprek oprek hardisk, lucu aja lihat puisi lama.
Kerutku berkening nih nerjemahin puisiku sendiri. Aku udah
benar-benar lupa sebab musabab tertulis puisi ini 😀

Leave A Comment

Recommended Posts