[FLASH CERPEN]

Mulutku
ternganga melihat bidadari yang hadir di hadapanku secara tiba tiba,
seperti sinar perak yang jatuh dari langit, saat ku membelakangi mentari senja di sore hari yang penuh duka dan nestapa.

“Celaka..!!” Pekikku kesetanan.

Makhluk
yang berwujud perempuan cantik jelita itu datang menggodaku. Bibirnya
yang merah bagaikan delima merekah itu langsung menyerbu dengan sangat
bernafsu dan mendarat dibibirku yang pucat. Aku tergagap seperti hendak mati karena kehabisan nafas, nafas tersenggal-senggal ngos-ngosan tak berdaya. Aku ingin lepas tetapi dia menahanku, terus
mengulum bibirku dengan ganas. Aku merasakan bau anyir menyebar diantara
mulutku yang beradu dengan mulutnya. Kemudian kurasakan sesuatu yang
hangat mengalir di sela-sela bibirku.

“Perempuan
jalang ini sudah sangat keterlaluan.” Kataku dalam hati.

Ia menyerangku habis habisan tanpa
permisi, tanpa memperkenalkan diri. Menit-menit pun berlalu sangat cepat. Lalu aku
merasakan badanku mulai tergetar hebat. Tanganku merasa gatal sekali, seperti
ingin meremas sesuatu. Aku bahkan harus berusaha merenggankan tanganku untuk meraih
udara kosong, guna mengambil tenaga dari luar. Dan setelah lama kucari dengan
mata tertutup, akhirnya kuraih sesuatu yang besar, lebih besar dari
genggaman tanganku. Tanpa ampun ku hajar saja benda itu biar aku lekas
bebas.

Lama sekali perang tanpa provokasi itu
berlangsung di tempat terbuka. Di belahan bukit penuh dengan rerumputan. Lama sekali aku bertempur, hingga
saat seperti akan berakhir dengan menderita kekalahan, ketika kepalaku terasa
panas-dingin dan pikiranku entah kemana.

Disaat saat-saat yang menegangkan itu aku merasa sangat lemas, rasanya tubuhku tak
lagi bertulang. Kakiku seperti tak punya tenaga lagi untuk berdiri. Maka
aku ambruk seketika dengan mata yang sangat berat untuk terbuka. Pandanganku kabur kelap-kelip. Rasanya jiwaku sudah di hisap habis oleh
makhluk yang cantik itu. Badanku dibuat luluh lantak hingga semua
tulang lolos dari tubuhku.

“Persetan..!! Kau itu manusia, demit ataupun hantu…!!” Teriakku.

“Persetan..! Aku tak peduli lagi, kalau kau ingin membunuhku.”

“Kini
aku hanya peduli bahwa aku telah terbang tinggi, terbawa mimpi tanpa
perlu aku menghiraukan lagi mentari senja yang menyala merah.”

_BIDADARI JALANG

© Andy Riyan 2014/2015

Leave A Comment

Recommended Posts