Asy raqol badru alaina… Terbitlah purnama di atas kita. Fakhtafat minhul buduru… Tertutuplah karenanya, purnama-purnama.

Misla husnik ma ra aina… Keelokan sepertimu, tiada kami pernah melihatnya. Qottu ya wajha as sururi… Wahai engkau, si paras berseri.

Anta syamsun… engkaulah mentari. Anta badrun… engkaulah purnama. Anta nuurun… engkaulah cahaya. Fauqo nuri… di atas cahaya.

Anta Iksiru wa gholli… engkaulah eliksir yang amat berharga. Anta misbakhus suduri… engkaulah pelita setiap jiwa.

Ya khabibi… wahai kekasihku, Ya Muhammad… wahai Muhammad. Ya ‘arusal khofiqoini… wahai yang menjadi pusat perhatian di timur dan barat.

Ya muay yad… wahai yang dikuatkan. Ya mumaj jad.. Wahai yang diagungkan. Ya imamal kiblataini… wahai pemimpin dua kiblat.

Hatiku selalu bergetar setiap mendengar dan setiap mendendangkan syair Barzanji Nazhm ini. Hatiku jadi penuh dengan rindu kepada sang kekasih, Sang Sulthonul Anbiya. Setiap Rabu malam, kami mendendangkan sayir ini… dan sekarang menjadi lebih sering, setiap malam di 12 hari pertama bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran dan bulan wafatnya beliau Rosulullah Saw.

Muslim di seluruh dunia tahu, syair tadi dilagukan ketika Mahalul Qiyam, posisi berdiri. Itu adalah sebuah isyarat bagi kami bahwa kami sedang menantikan beliau. Kami sedang merasakan beliau hadir di tengah-tengah kami. Kerinduan menjadi begitu membuncah… karena kami mengerti betul makna dari syair ini.

“Eh…” Aku menyenggol teman SMP ku sebut saja namanya Zakiyah, “Sudah lama sekali aku tidak membaca Thola’al badru…” kataku padanya malam itu ketika kegiatan Diba-an selesai.

“Iya aku juga.” Sahut teman lama yang sekarang jadi Guru Sejarah Islam di suatu madrasah. “Itu kan lagu yang didendangkan perempuan-perempuan Yastrib ketika Nabi tiba dari Mekkah.”

“Ah kamu ngarang…”

Zakiyah menatapku dengan pandangan yang aneh. Dia kaget. Tentu saja dia kaget. Dia guru Sejarah Kebudayaan Islam, bertahun-tahun meyakini bahwa lagu yang kami singgung tadi adalah sebuah syair yang didendangkan ketika Rosulullah Sholallahu alaihi wa alaihi wasalam dalam peristiwa hijrah dari Kota Makkah menuju Kota Yastrib yang kemudian berubah menjadi Madinatul Munawaroh, Kota Nabi.

Yang sering kudengar juga sama. Seperti itu lah kisah yang kami dengar. 13 tahun yang lalu kami berada di sekolah yang sama.

Zakiyah adalah guru yang cerdas dan pintar. Dia pencerita yang cakap. Penyampai pesan yang ulung. Suaranya lembut dan enak didengarkan. Semua orang terpana jika menyimak dia berbicara. Dan dia juga… well, seorang ahli debat yang hebat. Tetapi dia hanya terpana melihatku ketika aku menyinggung dan mengatakan kepadanya kalau dia ngarang soal peristiwa yang terjadi dalam syair ‘Thola’al Badru…’ itu.

Zakiyah tahu aku tidak asal bicara ketika mengatakan bahwa Zakiyah ngarang soal itu. Kalau bukan aku yang mengatakannya, besar sekali kemungkinannya dia akan merepet menjelaskan kronologinya dari awal sampai akhir. Besar sekali kemungkinannya dia akan sangat cerewet lempar sana lempar sini, seperti yang sering terjadi. Masalahnya aku yang mengatakannya… dia tak pernah menduga, aku akan sekejam itu.

Zakiyah diam saja. Ia sudah pulih dari kekagetannya, mungkin. Zakiyah kulihat kemudian, tampak menikmati hidangan berupa snack ringan yang dibawa jamaah, yang digilir semalam 4 orang. Ia mengabaikan aku secara total.

“Ah tak ada diskusi malam ini…” kataku lirih kepada diri sendiri.

Aku pun lalu teralihkan dan terhanyut dalam suasana kegembiraan dan kemesraan. Menikmati hidangan snack ringan sambil ngobrol ngalor ngidul dengan orang yang berada di dekatku. Meskipun di kepalaku masih, tak berhenti, terus terngiang-ngiang sebuah syair:

Thola’al badru alaina… terbitlah purnama di atas kita. Min Tsaniyyatil Wada* dari Tsaniyyat Al Wada.

Wajaba sukru ‘alaina… wajiblah bersyukur atas kita. Mada’a lillahi da’… ketika seorang penyeru, menyeru (mengajak) kepada Allah.

Ayyuhal mab’usu fina… wahai yang diutus kepada kami. Ji` ta bil amril mutho’… engkau datang dengan perintah yang ditaati.

Anta Ghousuna Jami’a… engkaulah pelindung kami semua. Ya mujammalal tiba’… wahai yang elok budinya.

“Jelaskan buku apa yang kamu baca itu…” Kata Zakiyah dingin. Sementara kakinya bergerak menyingkarkan sandal milikku tepat ketika aku ingin memakainya setelah acara Diba malam itu selesai.

“Ha?”

Zakiyah memunggungiku. Ia menyingkirkan sandalku semakin menjauh dariku dengan kakinya.

“Woi, Koplak! Kembalikan sandalku!”

Ingin sekali kulempar dia dengan apa saja. Tapi sial tak ada apa-apa, cuma buku Diba yang berada di tanganku.

Zakiyah menoleh, “Janji…”

“Hah janji?” aku tak paham, “Janji apa maksudmu?”

“Kamu akan mengatakan semua yang kamu ketahui…” Zakiyah mebalikkan badan mentapku lurus dan dingin, “Soal syair yang katamu… aku ngarang itu.”

Aku melihat kakinya sudah siap-siap menendang sepasang sandalku keluar dari arena masjid menuju selokan air di bawah sana. Aku terpana melihat sorot matanya yang… seperti orang yang sedang penuh dengan amarah, tatapan mata yang penuh benci. Sangat mengancam.

Aku menelan ludah.

“Tendang aja kalau…”

Dengan sekuat tenaga, dua kali Zakiyah menendang sandalku kuat-kuat. Satu sandalku masuk ke dalam got, yang lain terlempar ke jalanan jauh sekali.

“Ha matek aku…” aku benar-benar tak menduganya.

“Apa!” Lengking Zakiya. Kemudian ia berlalu begitu saja

Tapi sebelum berlalu aku sempat menangkap kilasan yang membingungkan. Samar-samar kulihat… mungkin perasaanku saja… Zakiyah tersenyum. Tipis sekali dan sekejap saja. Aku terpana. Aku penasaran, senyum itu… sebentar… apakah dia tersenyum padaku?

*Note:

Menurut Quraish Shihab perlu bagi kita untuk meninjau ulang kebenaran kisah Thola’al Badru ini apakah benar didendangkan saat Nabi tiba di Madinah dalam peristiwa Hijrah yang terkenal itu. Sebab menurut Ibnu al-Qoyyim, sebagaimana yang juga dikutip oleh Pak Quraish Shihab dalam bukunya: Membaca Sirah Nabi Muhammad, terbitan Lentera Hati, bahwa Ibnu al-Qayyim tidak sependapat dengan yang menyatakan bahwa syair-syair di atas (syair Thola’al badru…) didendangkan ketika menyambut Nabi dari Makkah, karena pendatang dari Makkah tidak melalui Tsaniyat Al Wada’. Syair tersebut, menurut beliau, didendangkan ketika Nabi kembali dari Tabuk, karena yang datang dari sanalah yang melalui lokasi Tsaniyyat Al Wada’.

Leave A Comment

Recommended Posts